Seputar Aqiqah

Aqiqah merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Islam sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Dalam pembahasan seputar aqiqah, ibadah ini tidak hanya berkaitan dengan penyembelihan hewan, tetapi juga mencakup pencukuran rambut bayi, pemberian nama yang baik, hingga pembagian makanan kepada sesama.

Artikel ini akan mengulas seputar aqiqah secara lengkap, mulai dari pengertian, hukum, ketentuan hewan, distribusi daging, hingga tanggung jawab pelaksanaannya menurut para ulama.


Seputar Aqiqah

Pencukuran Rambut Bayi dan Pemberian Nama

Dalam bukunya Hukum Qurban, Aqiqah dan Sembelihan, KH. Abdurrahman menjelaskan bahwa di sebagian kalangan terdapat anjuran menimbang rambut bayi dengan emas atau perak, dengan tujuan agar sedekah yang dikeluarkan semakin banyak. Dalam bersedekah, semakin banyak tentu semakin baik.

Prosesi pencukuran rambut bayi biasanya dilanjutkan dengan pemberian nama. Islam sangat menganjurkan agar anak diberi nama yang baik, bahkan dianjurkan pula untuk mengumumkannya kepada masyarakat sekitar.

Pemberian nama yang baik merupakan salah satu kewajiban orang tua. Di antara nama yang paling baik adalah nama Muhammad, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa terdapat keterkaitan antara makna sebuah nama dengan karakter pemiliknya, sehingga pemberian nama bukan perkara sepele, melainkan doa sepanjang hidup.


Pengertian Aqiqah

Dalam kajian seputar aqiqah, para ulama menjelaskan pengertiannya dari sisi bahasa dan istilah.

  • Menurut bahasa, aqiqah berarti rambut yang tumbuh di kepala bayi sejak lahir.
  • Menurut istilah, aqiqah adalah hewan yang disembelih untuk bayi, bersamaan dengan mencukur rambut dan pemberian nama.

Hal ini berdasarkan hadits:

“Bagi anak laki-laki dua ekor kambing dan bagi anak perempuan satu ekor.”
(HR. Al-Bazzar dari Ibnu Abbas)

Dengan demikian, aqiqah adalah serangkaian ajaran Nabi ﷺ yang mencakup:

  1. Mencukur rambut bayi
  2. Memberi nama
  3. Menyembelih hewan aqiqah

Ketentuan Hewan Aqiqah (Jantan atau Betina)

Dalam pembahasan seputar aqiqah, hewan yang sah untuk aqiqah adalah:

  • Kambing atau domba (jantan atau betina)
  • Sehat dan tidak cacat
  • Telah cukup umur (minimal 1 tahun untuk kambing)

Aqiqah tidak sah jika menggunakan hewan selain kambing atau domba, seperti ayam, kelinci, atau burung.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing, dan untuk anak perempuan satu kambing.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Para ulama menjelaskan bahwa istilah syah mencakup kambing jantan maupun betina, sehingga aqiqah dengan kambing betina tetap sah, meskipun yang utama adalah kambing jantan yang bertanduk.


Distribusi Masakan Aqiqah

Setelah hewan aqiqah disembelih, para ulama menganjurkan pembagian sebagai berikut:

  • Sepertiga untuk keluarga
  • Sepertiga untuk hadiah
  • Sepertiga untuk sedekah

Dalam seputar aqiqah, dianjurkan agar daging dibagikan dalam kondisi sudah dimasak, bukan mentah. Hal ini bertujuan untuk meringankan beban fakir miskin dan memberikan kebahagiaan bagi mereka.


Jumlah Hewan Aqiqah

  • Anak laki-laki: 2 ekor kambing
  • Anak perempuan: 1 ekor kambing

Namun jika orang tua tidak mampu menyembelih dua ekor untuk anak laki-laki, maka seekor pun sudah mencukupi dan tidak mengurangi nilai aqiqah, selama dilakukan dengan jujur sesuai kemampuan.


Seputar Aqiqah dan Qurban: Bolehkah Digabungkan?

Dalam hal aqiqah yang bertepatan dengan waktu qurban, para ulama berbeda pendapat:

  1. Membolehkan digabungkan
    Pendapat ini dianut oleh sebagian ulama Hambali, Hasan Al-Bashri, dan Ibnu Sirin.
  2. Tidak membolehkan digabungkan
    Pendapat ulama Maliki, karena aqiqah dan qurban memiliki tujuan dan waktu yang berbeda.

Mayoritas ulama lebih berhati-hati dengan tidak menggabungkan keduanya, kecuali dalam kondisi tertentu dan mengikuti pendapat ulama yang membolehkan.


Mana yang Didahulukan: Aqiqah atau Qurban?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa:

  • Aqiqah dan qurban sama-sama sunnah muakkadah
  • Jika mampu, sebaiknya melaksanakan keduanya
  • Jika tidak mampu dan waktunya berbeda, dahulukan yang lebih dulu waktunya

Siapa yang Bertanggung Jawab Melaksanakan Aqiqah?

Dalam pembahasan seputar aqiqah, ulama berbeda pendapat:

  1. Mayoritas ulama: ayah bertanggung jawab
  2. Jika ayah tidak mampu, bisa dilakukan oleh wali
  3. Bisa juga dilakukan oleh kerabat atau pihak lain
  4. Tidak ada kewajiban khusus pada orang tertentu

Kesimpulannya, tidak ada kesepakatan tunggal, namun yang paling utama adalah ayah atau wali anak.


Aqiqah bagi Orang Dewasa

Jika seseorang belum diaqiqahkan hingga dewasa, para ulama berbeda pendapat:

  • Sebagian membolehkan aqiqah sendiri
  • Sebagian tidak mewajibkan

Kesimpulan yang lebih moderat: boleh mengaqiqahkan diri sendiri, namun tidak berdosa jika tidak melakukannya.


Hukum Aqiqah Menurut Para Ulama

Pendapat ulama terbagi menjadi tiga:

  1. Sunnah muakkadah (Mayoritas ulama)
  2. Wajib (Sebagian ulama)
  3. Tidak disyariatkan (Pendapat minoritas)

Mayoritas fuqaha sepakat bahwa aqiqah adalah sunnah yang sangat dianjurkan.


Kesimpulan Seputar Aqiqah

Aqiqah adalah ibadah yang sarat makna: syukur, doa, dan kepedulian sosial. Dalam pembahasan seputar aqiqah, kita memahami bahwa aqiqah bukan sekadar tradisi, melainkan ajaran Nabi ﷺ yang memiliki tuntunan jelas dalam syariat.

Semoga dengan memahami seputar aqiqah secara benar, kita dapat menunaikannya dengan penuh keikhlasan dan keberkahan.

Aqiqah No. #1 di Indonesia dengan 52 cabang. Dipercaya keluarga Indonesia dan para artis.

Hidangan lezat dari kambing pilihan, dimasak oleh juru masak berpengalaman, siap menjadikan momen tasyakuran atau berbagi Anda lebih bermakna.

KANTOR PUSAT

Perum IKIP Gunung Anyar B-48 Surabaya.

Buka Setiap Hari : 08.00 - 21.00 WIB

HOTLINE : 0822 2955 1842

QUICK LINK

Kantor Cabang

Paket Aqiqah

Testimoni Artis

FAQ Seputar Aqiqah

Scroll to Top