Sejarah Aqiqah Dalam Islam
Oleh: Keysha Amelia Desember 31, 2025 Sejarah aqiqah dalam Islam merupakan topik yang penting dipahami oleh setiap orang tua Muslim. Secara bahasa, aqiqah berasal dari bahasa Arab yang berarti menyembelih hewan (kambing atau domba) sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran sang buah hati. Meskipun sudah menjadi tradisi turun-temurun, pelaksanaan aqiqah harus tetap berpedoman pada hukum Islam yang berlaku. Mari kita ulas lebih dalam mengenai asal-usul dan perkembangannya. Bagaimana Sejarah Aqiqah Sebelum Islam? Sebelum cahaya Islam masuk ke tanah Arab, masyarakat jahiliah sebenarnya sudah mengenal tradisi penyembelihan hewan saat seorang anak lahir. Namun, praktik tersebut memiliki perbedaan mendasar dengan syariat saat ini. Pada masa itu, aqiqah hanya dilakukan untuk anak laki-laki. Masyarakat Arab kuno melakukannya sebagai simbol kebanggaan. Hal yang paling mencolok adalah kebiasaan mereka melumuri kepala bayi dengan darah hewan yang disembelih. Perubahan Tradisi Setelah Datangnya Islam Setelah Nabi Muhammad SAW diutus, beliau tidak menghapus tradisi tersebut, melainkan menyempurnakannya. Rasulullah melarang penggunaan darah dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih suci dan bersih. Berdasarkan hadis dari Buraidah (HR Abu Dawud), dahulu masyarakat jahiliah melumuri kepala bayi dengan darah. Namun setelah Islam datang, Rasulullah bersabda: “Setelah Allah menghadirkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala sang bayi, dan melumurinya menggunakan minyak wangi.” Ketentuan Aqiqah untuk Laki-Laki dan Perempuan Salah satu bentuk keadilan Islam dalam sejarah aqiqah adalah diperbolehkannya anak perempuan untuk diaqiqahi. Nabi Muhammad SAW memperluas cakupan ibadah ini agar tidak hanya terbatas pada anak laki-laki. Ketentuan jumlah hewan yang disembelih adalah sebagai berikut: Hal ini merujuk pada hadis riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Ummu Karaz Al Ka’biyah yang menegaskan pembagian tersebut. Meski begitu, Nabi SAW sendiri pernah mencontohkan menyembelih masing-masing satu kambing untuk cucu beliau, Hasan dan Husein, sebagai bentuk kemudahan bagi umatnya. Kapan Waktu Terbaik Melaksanakan Aqiqah? Menurut mayoritas ulama, waktu paling utama untuk aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW bahwa setiap anak “tertahan” hingga ia diaqiqahi pada hari ketujuh. Namun, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai fleksibilitas waktu: Perbedaan Aqiqah dengan Qurban Perlu diingat bahwa pembagian daging aqiqah berbeda dengan daging kurban. Daging aqiqah disunnahkan untuk dibagikan dalam kondisi sudah matang atau sudah dimasak, sedangkan kurban biasanya dibagikan saat masih mentah. Kesimpulan Memahami sejarah aqiqah dalam Islam mengajarkan kita bahwa ibadah ini bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penebusan dan syukur kepada Allah SWT. Dengan melaksanakan aqiqah sesuai sunnah, kita berharap sang anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan membawa keberkahan. Ingin Aqiqah Tanpa Ribet? Aqiqoh Nurul Hayat siap membantu Anda melaksanakan sunnah aqiqah dengan layanan profesional dan sesuai syariat. Kami bangga menjadi bagian dari gerakan dakwah dan kemanusiaan. Hubungi Kami: [+6281 999 600 700]