Sejarah Aqiqah Dalam Islam

Sejarah Aqiqah Dalam Islam
by Aditiya

Februari 07, 2022

Sejarah Aqiqah Dalam Islam

Aqiqah berasal dari bahasa Arab, yang memiliki arti sebagai penyembelihan terhadap hewan (kambing atau domba ) sebagai tanda rasa syukur orang tua atas kelahiran anaknya. Menjalani aqiqah harus sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku dalam Islam. Sebagai umat islam tidak ada salahnya jika mengetahui sejarah aqiqah yang terjadi pada masa Nabi Ibrahim AS.

Aqiqah dijadikan sebagai suatu kewajiban umat muslim ketika memiliki seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan. Tetapi, beberapa ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Malik tidak setuju dengan pendapat bahwa aqiqah wajib dilakukan karena tidak ada penjelasan dari agama mengenai hal tersebut. Sunah atau wajib, ketika umat muslim melakukan aqiqah tetap akan mendapatkan pahala.

Sejarah Akikah dalam Islam

Sebelum Islam masuk ke masyarakat Arab, mereka sudah melakukan adanya menyembelih kambing atau domba untuk kelahiran anak laki-laki. Penyembelihan hewan tersebut disebut dengan aqiqah. Masyarakat Arab melakukan itu sebagai tanda syukur dan bahagia atas kelahiran anak laki-laki.

Saat itu aqiqah dilakukan dengan menyembelih hewan kambing atau domba, lalu dilanjutkan dengan mencukur rambut bayi. Setelah itu kepala bayinya dilumuri oleh darah hasil pemotongan hewan tersebut. Tetapi setelah Islam masuk dan dilarang pula oleh Nabi Muhammad Saw, kebiasaan melumuri darah tersebut saat ini sudah berubah menjadi melumurkan air dari bunga-bunga atau minyak wangi. Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadis berikut:

“Dahulu (adat) kami pada masa jahiliah jika salah seorang di antara kami melahirkan anak, maka ia menyembelih kambing kemudian melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Setelah Allah menghadirkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala sang bayi, dan melumurinya menggunakan minyak bayi.” (HR Abu Dawud dari Buraidah).

Diriwayatkan juga dengan hadis yang lainnya, yaitu:

“Aisyah mengatakan bahwa, ‘Dahulu orang-orang pada masa jahiliah apabila mereka berakikah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumurkan pada kepalanya.’ Maka Nabi Saw bersabda, ‘Gantilah darah itu dengan minyak wangi’.” (HR. Ibnu Hibban)

Ketika Islam sudah memasuki masyarakat Arab, Nabi Muhammad Saw datang sebagai pembawa wahyu dari Allah SWT untuk menyempurnakan ibadah aqiqah. Aqiqah yang tadinya hanya dilakukan untuk seorang anak laki-laki yang baru lahir, kini anak perempuan yang baru lahir boleh melakukan aqiqah. Jika mampu aqiqah untuk anak laki-laki, maka dapat menyembelih dua ekor kambing.

Jika tidak maka menyembelih satu ekor kambing untuk anak laki-laki tetap disahkan. Sedangkan, untuk anak perempuan menyembelih satu ekor kambing saja. Seperti yang diriwayatkan dalam hadis ini, “Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor, dan tidak akan membahayakan kamu sekalian, apakah (sembelih itu) jantan atau betina.” (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Ummu Karaz Al Ka’biyah).

Nabi Muhammad Saw melakukan aqiqah untuk cucu-cucunya, yaitu Hasan dan Husein. Seperti yang diriwayatkan dalam hadis Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa Rasulullah Saw menyembelih (aqiqah) untuk Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang masing-masing menyembelih satu kambing. Semenjak saat itulah, aqiqah dijadikan suatu tradisi oleh umat muslim ketika memiliki anak yang baru lahir.

Proses aqiqah biasanya dilakukan saat usia bayi memasuki hari ketujuh, Nabi Muhammad Saw bersabda “Seorang anak tertahan hingga ia diaqiqahi, (yaitu) yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan diberi nama pada waktu itu.”

Tetapi, pendapat lain dari Sayyidah Aisyah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa aqiqah dapat dilakukan pada hari ke-7, ke-14, ke-20. Sedangkan, pendapat dari Imam Malik mengatakan bahwa jika aqiqah dilakukan saat hari ketujuh termasuk dalam sunah, aqiqah disembelih pada hari keempat, kedelapan, kesepuluh, atau lewat dari hari tersebut, atau mungkin ketika keluarga sudah siap untuk melakukan aqiqah-pun masih diperbolehkan. Daging-daging kambing atau domba yang sudah disembelih, akan dibagikan seperti halnya membagikan daging kurban. Bedanya adalah daging aqiqah dibagikan saat sudah matang, tetapi kalau daging kurban dibagikan saat masih mentah.

Aqiqoh Nurul Hayat

Alhamdulilah kami bangga menjadi bagian dari sebuah gerakan dakwah dan kemanusiaan yang bahu membahu dalam wadah :

rbxpacks.com

Seputar Aqiqoh
Galeri
Kontak
+6281 999 600 700

Aqiqah No. #1 di Indonesia dengan 52 cabang. Dipercaya keluarga Indonesia dan para artis.

Hidangan lezat dari kambing pilihan, dimasak oleh juru masak berpengalaman, siap menjadikan momen tasyakuran atau berbagi Anda lebih bermakna.

KANTOR PUSAT

Perum IKIP Gunung Anyar B-48 Surabaya.

Buka Setiap Hari : 08.00 - 21.00 WIB

HOTLINE : 0822 2955 1842

QUICK LINK

Kantor Cabang

Paket Aqiqah

Testimoni Artis

FAQ Seputar Aqiqah

Scroll to Top