Bolehkah Orang Tua Memakan Daging Aqiqah Anaknya?

Bolehkah Orang Tua Memakan Daging Aqiqah Anak? – Aqiqah Surabaya

Aqiqah anak adalah salah satu sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW sebagai wujud syukur orang tua atas kelahiran buah hati. Ibadah ini tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga memiliki hikmah sosial dan spiritual yang besar. Namun, sering muncul pertanyaan: bolehkah orang tua memakan daging aqiqah anaknya sendiri?

Berikut penjelasan lengkapnya berdasarkan pandangan para ulama.


Aqiqah Anak dalam Islam

Aqiqah termasuk sunnah muakkadah yang dianjurkan dilakukan pada hari ketujuh kelahiran anak. Rasulullah SAW bersabda, diriwayatkan dari Sayidah Aisyah r.a:

“Seorang anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih baginya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kewajiban aqiqah bagi anak yang belum baligh dibebankan kepada orang tua, khususnya ayah. Menunaikan aqiqah dipercaya memberikan syafaat bagi anak kepada orang tua di akhirat. (Ibnu Hajar al-Haitami, Fatawa al-Kubra)

aqiqah di bulan ramadhan sesuai syariat islam. Bolehkah Orang Tua Memakan Daging Aqiqah Anak? – Aqiqah Surabaya

Hukum Aqiqah Menurut Ulama

Secara umum, hukum aqiqah mirip dengan ibadah qurban. Abu Bakar bin Muhammad Syatha al-Dimyathi dalam I’anah ath-Thalibin menjelaskan:

“Aqiqah serupa dengan qurban dalam kebanyakan hukumnya, baik dari segi jenis hewan, umur, bebas dari cacat, niat, hukum memakan, hingga menyedekahkannya.”

Dengan demikian, hukum memakan daging aqiqah anak mengikuti ketentuan yang sama seperti daging qurban.


Hukum Memakan Daging Aqiqah Anak

Berdasarkan jenis aqiqah, hukum memakan daging dibagi menjadi tiga kategori:

1. Aqiqah Sunnah

Jika aqiqah dilakukan sebagai sunnah tanpa nazar atau wasiat, orang tua diperbolehkan memakan dagingnya. Ayah dan ibu termasuk pihak yang boleh menikmati daging tersebut, sebagaimana qurban sunnah.

Ibnu Hajar al-Haitami: “Ayah diperbolehkan memakan daging aqiqah anaknya, sebagaimana diperbolehkan memakan daging qurban yang ia niatkan untuk dirinya sendiri.”

2. Aqiqah Nazar

Jika aqiqah dilakukan karena nazar (misal bernazar “Jika anak saya lahir selamat, saya akan beraqiqah”), maka aqiqah menjadi wajib, dan orang tua tidak boleh memakan dagingnya, sebagaimana ketentuan qurban wajib.

I’anah ath-Thalibin: “Aqiqah yang wajib karena nazar atau penentuan hewan tertentu, maka tidak boleh sedikit pun dimakan oleh orang yang bernazar.”

3. Aqiqah Wasiat

Jika aqiqah dilakukan atas wasiat orang yang telah meninggal dunia, maka orang yang menjalankan wasiat maupun orang kaya tidak boleh memakan dagingnya, karena diperuntukkan sepenuhnya bagi si mayit.

Ibnu Hajar al-Haitami: “Jika seseorang berqurban atau beraqiqah atas nama orang lain yang telah wafat karena wasiat, maka ia dan orang-orang kaya tidak boleh memakan dagingnya.”


Kesimpulan

Orang tua boleh memakan daging aqiqah anaknya hanya jika aqiqah dilakukan sebagai sunnah. Namun, jika aqiqah karena nazar atau wasiat, maka orang tua tidak diperbolehkan memakannya.

Memahami hukum ini membantu orang tua melaksanakan aqiqah sesuai syariat, sehingga ibadah membawa keberkahan bagi keluarga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Aqiqah No. #1 di Indonesia dengan 52 cabang. Dipercaya keluarga Indonesia dan para artis.

Hidangan lezat dari kambing pilihan, dimasak oleh juru masak berpengalaman, siap menjadikan momen tasyakuran atau berbagi Anda lebih bermakna.

KANTOR PUSAT

Perum IKIP Gunung Anyar B-48 Surabaya.

Buka Setiap Hari : 08.00 - 21.00 WIB

HOTLINE : 0822 2955 1842

QUICK LINK

Kantor Cabang

Paket Aqiqah

Testimoni Artis

FAQ Seputar Aqiqah

Scroll to Top