Aqiqah Hukumnya Sunnah dan Dilaksanakan pada Hari Ke-7: Memahami Dalil dan Keutamaannya

Kelahiran seorang anak adalah anugerah terindah dari Allah SWT yang patut disyukuri. Dalam Islam, salah satu bentuk syukur dan ibadah yang dianjurkan setelah kelahiran anak adalah aqiqah. Pertanyaan yang sering muncul di benak orang tua muslim adalah mengenai status hukumnya dan kapan waktu terbaik untuk melaksanakannya. Jawabannya tegas: aqiqah hukumnya sunnah dan dilaksanakan pada hari ke-7 setelah kelahiran. Pemahaman ini sangat penting agar kita dapat menunaikan ibadah ini sesuai tuntunan syariat, meraih keberkahan, dan meneladani sunnah Rasulullah SAW.

aqiqah hukumnya sunnah dan dilaksanakan pada hari ke

Memahami Hukum Aqiqah: Sunnah Muakkadah yang Penuh Berkah

Dalam fiqih Islam, aqiqah digolongkan sebagai sunnah muakkadah. Apa artinya sunnah muakkadah? Ini berarti ibadah tersebut sangat dianjurkan dan ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW, bahkan beliau sendiri melaksanakannya. Meskipun tidak wajib seperti shalat atau puasa Ramadhan, meninggalkannya tanpa alasan syar’i yang kuat sangat disayangkan karena akan kehilangan pahala dan keberkahan yang besar. Hukum aqiqah yang sunnah ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian khusus terhadap kelahiran seorang anak, bukan hanya sebagai peristiwa biologis, tetapi juga sebagai momen spiritual yang mendalam.

Para ulama dari berbagai mazhab sepakat mengenai status hukum ini. Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan Imam Malik berpendapat bahwa aqiqah adalah sunnah muakkadah. Dalil-dalil yang mendasari hukum ini sangat kuat, bersumber dari hadis-hadis Rasulullah SAW yang shahih. Misalnya, hadis dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi RA, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah darah untuknya dan singkirkanlah kotoran darinya.'” (HR. Bukhari). Hadis ini secara jelas menunjukkan anjuran untuk melaksanakan aqiqah.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun hukumnya sunnah, bukan berarti aqiqah bisa diabaikan begitu saja. Ia adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia keturunan, sekaligus sebagai tebusan bagi anak yang baru lahir dari berbagai potensi keburukan. Dengan melaksanakan aqiqah, orang tua berharap anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang shalih/shalihah, sehat, dan diberkahi Allah SWT.

Kapan Aqiqah Dilaksanakan? Menelusuri Dalil Hari Ketujuh

Salah satu aspek penting dalam pelaksanaan aqiqah adalah penentuan waktunya. Berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SAW, aqiqah dilaksanakan pada hari ke-7 setelah kelahiran anak. Ini adalah waktu yang paling utama dan dianjurkan. Dalil yang menjadi dasar penetapan waktu ini sangat jelas, sebagaimana diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Hadis ini secara eksplisit menyebutkan hari ketujuh sebagai waktu ideal untuk menyembelih hewan aqiqah, mencukur rambut bayi, dan memberinya nama. Hikmah di balik penetapan hari ketujuh ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada orang tua untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sekaligus sebagai momen yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat setelah kelahiran. Ini juga selaras dengan tradisi penamaan anak dalam Islam yang seringkali dilakukan pada hari ketujuh.

Namun, bagaimana jika tidak memungkinkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh? Apakah masih bisa dilakukan? Para ulama memberikan kelonggaran dalam hal ini. Jika tidak bisa pada hari ketujuh, maka dianjurkan pada hari ke-14. Jika masih tidak bisa, maka pada hari ke-21. Dan jika masih belum bisa, maka aqiqah tetap bisa dilaksanakan kapan saja sebelum anak mencapai usia baligh. Setelah baligh, kewajiban aqiqah beralih kepada anak itu sendiri, jika ia mampu dan ingin mengaqiqahi dirinya. Fleksibilitas ini menunjukkan kemudahan dalam Islam, namun tetap mengutamakan waktu yang paling afdhal yaitu hari ketujuh.

Hikmah dan Keutamaan Aqiqah yang Hukumnya Sunnah

Pelaksanaan aqiqah yang hukumnya sunnah ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi sarat akan hikmah dan keutamaan yang mendalam bagi keluarga dan anak yang diaqiqahi. Beberapa hikmah tersebut antara lain:

  1. Wujud Syukur kepada Allah SWT: Aqiqah adalah bentuk konkret rasa syukur atas karunia Allah berupa keturunan yang sehat dan sempurna. Ini adalah pengakuan bahwa anak adalah titipan dari-Nya.
  2. Penebusan dan Perlindungan: Sebagaimana hadis “setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya,” aqiqah diyakini sebagai penebusan bagi anak dari berbagai potensi keburukan dan sebagai doa agar anak mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.
  3. Menghidupkan Sunnah Nabi SAW: Dengan melaksanakan aqiqah, kita turut menghidupkan dan meneladani sunnah Rasulullah SAW, yang tentunya akan mendatangkan pahala yang besar.
  4. Mempererat Tali Silaturahmi: Daging aqiqah biasanya dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat. Ini menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan, mempererat tali silaturahmi, dan menumbuhkan kepedulian sosial.
  5. Pengumuman Kelahiran dan Kebahagiaan: Aqiqah juga berfungsi sebagai pengumuman resmi atas kelahiran seorang anak dalam keluarga Muslim, sekaligus sebagai ungkapan kegembiraan yang dibagikan kepada masyarakat sekitar.
  6. Doa dan Harapan Baik: Dalam proses aqiqah, orang tua memanjatkan doa-doa terbaik untuk anak mereka, berharap agar tumbuh menjadi pribadi yang shalih/shalihah, berbakti, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, serta negara.

Melihat begitu banyak hikmah dan keutamaan, tidak heran jika banyak orang tua muslim berusaha keras untuk menunaikan ibadah aqiqah bagi buah hati mereka. Di era modern ini, kemudahan dalam melaksanakan aqiqah semakin beragam. Bagi Anda yang berada di wilayah padat seperti ibu kota dan sekitarnya, layanan aqiqah profesional sangat membantu. Aqiqah Jabodetabek Nurul Hayat hadir untuk memudahkan para orang tua menunaikan ibadah ini tanpa repot mengurus penyembelihan hingga pengolahan daging.

Tidak hanya di dalam negeri, ibadah aqiqah juga menjadi perhatian bagi umat Muslim di berbagai belahan dunia. Bagi Anda yang berada di luar negeri atau memiliki kerabat di sana, kemudahan layanan aqiqah juga tersedia. Misalnya, Aqiqah Malaysia Nurul Hayat menyediakan solusi bagi umat Muslim yang ingin melaksanakan aqiqah di Malaysia dengan standar syar’i dan pelayanan terbaik.

Memudahkan Pelaksanaan Aqiqah yang Hukumnya Sunnah dan Dilaksanakan pada Hari Ke-7

Meskipun aqiqah hukumnya sunnah dan dilaksanakan pada hari ke-7 adalah anjuran utama, seringkali kesibukan dan keterbatasan waktu menjadi kendala bagi sebagian orang tua. Namun, hal ini tidak seharusnya menghalangi niat baik untuk menunaikan ibadah yang penuh berkah ini. Berbagai lembaga dan penyedia jasa aqiqah profesional kini hadir untuk membantu umat Muslim melaksanakan aqiqah dengan mudah, praktis, dan sesuai syariat. Mereka menangani mulai dari pemilihan hewan yang sesuai syar’i, proses penyembelihan, pengolahan daging menjadi masakan siap saji, hingga pendistribusian kepada yang berhak.

Dengan adanya layanan semacam ini, orang tua tidak perlu lagi direpotkan dengan detail teknis pelaksanaan aqiqah. Mereka bisa fokus pada momen kebahagiaan menyambut kelahiran buah hati sambil tetap memastikan ibadah aqiqah terlaksana dengan sempurna. Ini adalah solusi cerdas bagi kehidupan modern yang serba cepat, tanpa mengurangi esensi dan nilai ibadah aqiqah itu sendiri.

Percayakan aqiqah si kecil kepada Aqiqah Nurul Hayat, layanan aqiqah profesional 52 cabang se-Indonesia.

Aqiqah No. #1 di Indonesia dengan 52 cabang. Dipercaya keluarga Indonesia dan para artis.

Hidangan lezat dari kambing pilihan, dimasak oleh juru masak berpengalaman, siap menjadikan momen tasyakuran atau berbagi Anda lebih bermakna.

KANTOR PUSAT

Perum IKIP Gunung Anyar B-48 Surabaya.

Buka Setiap Hari : 08.00 - 21.00 WIB

HOTLINE : 0878 5300 0101

Scroll to Top