by Aditiya
September 07, 2021
Tata cara aqiqah sesuai sunnah Kelahiran si kecil tentu membawa kebahagiaan besar bagi setiap keluarga. Dalam Islam, ada satu rangkaian ibadah untuk menyambut kelahiran bayi, yaitu aqiqah. Aqiqah merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas amanah seorang anak, yang diwujudkan dengan menyembelih hewan dan membagikannya kepada kerabat, tetangga, serta mereka yang membutuhkan. Pelaksanaannya dianjurkan mengikuti tata cara aqiqah sesui sunnah Rasulullah SAW.
Hukum Aqiqah untuk Bayi
Secara bahasa, aqiqah berarti “memotong”, berasal dari kata Arab al-qath’u. Ada pula yang mengartikan aqiqah sebagai rambut bayi yang dibawa sejak lahir. Menurut istilah syariat, aqiqah adalah penyembelihan hewan ternak yang dilakukan sebagai bentuk ibadah atas kelahiran seorang anak.
Mayoritas ulama sepakat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan. Orang tua yang mampu sangat dianjurkan melaksanakan aqiqah untuk anaknya. Namun, bagi yang belum mampu, tidak berdosa jika belum melaksanakannya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan baginya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan dinilai shahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menjadi landasan kuat disyariatkannya aqiqah dalam Islam.
Tata Cara Aqiqah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Kelahiran seorang anak adalah anugerah besar dari Allah SWT yang patut disyukuri. Dalam Islam, salah satu bentuk rasa syukur tersebut diwujudkan melalui ibadah aqiqah. Aqiqah bukan sekadar tradisi, melainkan ibadah sunnah yang memiliki tuntunan jelas dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memahami tata cara aqiqah sesuai sunnah agar pelaksanaannya bernilai ibadah dan membawa keberkahan.
Waktu yang Dianjurkan dalam Aqiqah
Dalam tata cara aqiqah sesui sunnah, waktu pelaksanaan yang paling utama adalah hari ketujuh setelah kelahiran bayi, dengan perhitungan hari kelahiran sebagai hari pertama. Jika bayi lahir pada hari Senin, maka aqiqah dianjurkan dilaksanakan pada hari Minggu berikutnya.
Apabila belum memungkinkan pada hari ketujuh, aqiqah boleh dilaksanakan pada hari ke-14 atau ke-21. Jika masih belum mampu, maka aqiqah dapat dilakukan kapan saja saat orang tua telah memiliki kemampuan, bahkan ketika anak sudah dewasa.
Tata Cara Aqiqah Anak Laki-laki dan Perempuan
Pelaksanaan aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan pada dasarnya sama. Perbedaannya terletak pada jumlah hewan yang disembelih.
Rasulullah SAW bersabda:
“Anak laki-laki diaqiqahi dengan dua ekor kambing yang sepadan, dan anak perempuan dengan satu ekor kambing.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)
Untuk anak laki-laki dianjurkan menyembelih dua ekor kambing yang sejenis dan setara, sedangkan anak perempuan cukup satu ekor kambing. Namun, jika tidak mampu menyembelih dua ekor untuk anak laki-laki, satu ekor tetap sah.
Ketentuan Hewan dalam Aqiqah
Dalam praktik tata cara aqiqah sesui sunnah, hewan yang digunakan sebaiknya kambing atau domba yang sehat, cukup umur, dan tidak cacat. Sebagian ulama membolehkan sapi atau unta, namun lebih utama menggunakan kambing sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Dianjurkan pula saat mengolah hewan aqiqah tidak mematahkan tulangnya sebagai bentuk doa dan harapan akan keselamatan anggota tubuh anak.
Sunnah Setelah Penyembelihan Aqiqah
Setelah penyembelihan hewan aqiqah, dagingnya dianjurkan untuk dibagikan dalam keadaan sudah dimasak. Selain itu, ada beberapa sunnah yang menyertai aqiqah, yaitu:
- Mencukur rambut bayi
- Memberikan nama yang baik
- Melakukan tahnik, yaitu memasukkan makanan manis ke langit-langit mulut bayi
Amalan-amalan ini merupakan bagian dari tata cara aqiqah sesui sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW.
Aqiqoh Nurul Hayat
Alhamdulillah, kami bangga menjadi bagian dari gerakan dakwah dan kemanusiaan yang terus berupaya menghadirkan layanan aqiqah sesuai syariat dan penuh keberkahan.