Tasyakuran aqiqah artinya sebuah ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak, yang diwujudkan dalam bentuk penyembelihan hewan ternak (kambing atau domba) disertai dengan jamuan makan atau sedekah daging kepada kerabat, tetangga, dan kaum fakir miskin. Ini adalah salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam, menandai kebahagiaan dan harapan baik bagi sang buah hati yang baru lahir.

Memahami Tasyakuran Aqiqah Lebih Dalam
Kata tasyakur berasal dari bahasa Arab yang berarti bersyukur. Sedangkan aqiqah secara etimologi berarti memotong atau membelah. Dalam konteks syariat, aqiqah adalah penyembelihan hewan dalam rangka menyambut kelahiran anak sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Jadi, tasyakuran aqiqah artinya secara harfiah adalah ungkapan syukur melalui ibadah aqiqah.
Ibadah ini bukan hanya sekadar perayaan, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Ia menjadi simbol pembebasan anak dari “gadaian” yang melekat padanya sejak lahir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah). Dengan melaksanakan aqiqah, orang tua berharap anak akan tumbuh menjadi pribadi yang saleh/salehah, terhindar dari marabahaya, serta mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Pelaksanaan tasyakuran aqiqah juga merupakan momen untuk mempererat tali silaturahmi. Dengan mengundang keluarga, kerabat, dan tetangga untuk menikmati hidangan aqiqah, terjalinlah kebersamaan dan doa-doa baik untuk anak yang baru lahir. Ini menunjukkan bahwa aqiqah tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada komunitas sosial.
Hukum dan Keutamaan Tasyakuran Aqiqah dalam Islam
Para ulama sepakat bahwa hukum melaksanakan aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Ini berarti sangat dianjurkan bagi orang tua yang mampu untuk melaksanakannya. Meninggalkan aqiqah tanpa alasan syar’i yang kuat akan menghilangkan kesempatan meraih keutamaan besar dari ibadah ini.
Dalil dan Dasar Hukum Aqiqah
Anjuran aqiqah didasarkan pada banyak hadits Rasulullah SAW, di antaranya:
- Hadits dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi, Rasulullah SAW bersabda: “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah darah untuknya dan singkirkanlah kotoran darinya.” (HR. Bukhari).
- Hadits dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Anak laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sepadan, dan anak perempuan dengan satu kambing.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Hadits-hadits ini menegaskan bahwa aqiqah adalah bagian dari tuntunan syariat yang memiliki dasar kuat dari sunnah Nabi Muhammad SAW.
Keutamaan Melaksanakan Tasyakuran Aqiqah
Melaksanakan tasyakuran aqiqah membawa banyak keutamaan, antara lain:
- Bentuk Rasa Syukur: Mengungkapkan rasa syukur atas karunia anak dari Allah SWT.
- Menghidupkan Sunnah Nabi: Mengikuti jejak Rasulullah SAW yang menganjurkan aqiqah.
- Menebus Gadaian Anak: Membebaskan anak dari “gadaian” sehingga ia dapat memberikan syafaat bagi orang tuanya kelak.
- Membawa Keberkahan: Diharapkan anak tumbuh sehat, saleh/salehah, dan diberkahi Allah SWT.
- Mempererat Silaturahmi: Momen berkumpul dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga, kerabat, dan tetangga.
- Sedekah kepada Sesama: Memberi makan orang lain, terutama fakir miskin, yang merupakan amalan mulia.
Dengan memahami keutamaan ini, orang tua akan semakin termotivasi untuk menunaikan ibadah aqiqah bagi buah hatinya.
Panduan Lengkap Pelaksanaan Tasyakuran Aqiqah yang Sesuai Syariat
Untuk melaksanakan tasyakuran aqiqah yang sesuai syariat, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan:
1. Jumlah Hewan Aqiqah
- Untuk anak laki-laki: disembelih dua ekor kambing/domba yang memenuhi syarat.
- Untuk anak perempuan: disembelih satu ekor kambing/domba yang memenuhi syarat.
Hewan aqiqah harus sehat, tidak cacat, dan telah mencapai usia minimal yang disyaratkan (biasanya minimal 6 bulan untuk domba dan 1 tahun untuk kambing).
2. Waktu Pelaksanaan
Waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14, atau hari ke-21. Jika masih belum mampu, boleh dilaksanakan kapan saja ketika orang tua sudah memiliki kemampuan, bahkan hingga anak dewasa. Namun, semakin cepat semakin baik.
3. Tata Cara Penyembelihan dan Pembagian Daging
Daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Ini berbeda dengan daging qurban yang umumnya dibagikan dalam keadaan mentah. Pembagian daging aqiqah disarankan kepada:
- Fakir miskin dan kaum dhuafa.
- Kerabat dan tetangga.
- Keluarga yang beraqiqah juga boleh ikut memakannya.
Selain penyembelihan hewan, ada pula sunnah lain yang menyertai aqiqah, yaitu mencukur rambut bayi (biasanya pada hari ketujuh) dan memberi nama yang baik kepada anak.
Melaksanakan semua rangkaian ibadah aqiqah ini memang membutuhkan persiapan dan perhatian khusus. Oleh karena itu, banyak orang tua yang memilih layanan aqiqah profesional untuk memastikan ibadah ini berjalan lancar dan sesuai syariat. Aqiqah Nurul Hayat sebagai penyedia layanan aqiqah terkemuka di Indonesia, hadir untuk membantu Anda menunaikan ibadah ini dengan mudah dan praktis.
Dengan layanan dari Aqiqah Nurul Hayat, Anda tidak perlu repot mencari hewan, menyembelih, memasak, hingga mendistribusikan. Semua akan diurus dengan profesional dan sesuai tuntunan syariat, sehingga Anda bisa fokus pada kebahagiaan menyambut buah hati.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Seputar Tasyakuran Aqiqah)
Q1: Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan tasyakuran aqiqah?
A: Waktu yang paling utama adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14, atau hari ke-21. Jika masih belum mampu, aqiqah bisa dilaksanakan kapan saja saat orang tua telah memiliki kemampuan, bahkan setelah anak dewasa. Namun, disarankan untuk menyegerakannya.
Q2: Apakah hukum aqiqah wajib?
A: Hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan bagi orang tua yang mampu. Meskipun tidak wajib, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya karena memiliki banyak keutamaan dan keberkahan.
Q3: Berapa jumlah kambing/domba untuk aqiqah anak laki-laki dan perempuan?
A: Untuk anak laki-laki, disembelih dua ekor kambing atau domba yang memenuhi syarat. Sedangkan untuk anak perempuan, disembelih satu ekor kambing atau domba yang memenuhi syarat.
Q4: Bolehkah daging aqiqah dimakan oleh keluarga yang beraqiqah?
A: Ya, daging aqiqah boleh dimakan oleh keluarga yang beraqiqah. Bahkan disunnahkan agar sebagian dagingnya dimakan oleh keluarga sebagai bentuk kebahagiaan dan keberkahan, selain dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan tetangga.
Q5: Apa perbedaan utama antara aqiqah dan qurban?
A: Perbedaan utamanya terletak pada tujuan dan waktu pelaksanaannya. Aqiqah adalah ungkapan syukur atas kelahiran anak dan dilaksanakan kapan saja setelah kelahiran (paling utama hari ke-7), sementara qurban adalah ibadah yang dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Daging aqiqah disunnahkan dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan, sedangkan daging qurban umumnya dibagikan mentah.
Dengan pemahaman yang komprehensif tentang tasyakuran aqiqah artinya, diharapkan kita dapat menunaikan ibadah ini dengan niat tulus dan sesuai syariat. Untuk kemudahan dan kepastian ibadah aqiqah Anda, percayakan pada Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.