Pertanyaan mengenai perintah aqiqah bersumber dari mana seringkali muncul di benak umat Muslim yang ingin menunaikan ibadah ini dengan benar sesuai syariat. Aqiqah adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi orang tua yang dikaruniai anak. Untuk memahami dasar hukum dan pelaksanaannya, penting bagi kita untuk menelusuri sumber-sumber utama dalam Islam.

Dalil Aqiqah dalam Al-Qur’an dan Sunnah
Perintah aqiqah, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dengan lafaz ‘aqiqah’ di dalam Al-Qur’an, dasar hukumnya sangat kuat bersumber dari Sunnah Rasulullah SAW. Sunnah merupakan penjelasan dan implementasi dari perintah-perintah Allah SWT yang bersifat umum dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 59:
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.”
Ayat ini menjadi landasan dasar bahwa ketaatan kepada Rasulullah SAW, termasuk dalam melaksanakan sunnah-sunnah beliau, adalah bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, segala bentuk tuntunan dan praktik ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW melalui hadits-haditsnya memiliki kedudukan hukum yang kuat dalam syariat Islam, termasuk aqiqah.
Dalam konteks aqiqah, para ulama sepakat bahwa dalil-dalil utama yang menjadi rujukan adalah hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW. Hadits-hadits ini menjelaskan secara rinci tentang tata cara, waktu, dan jumlah hewan yang disembelih untuk aqiqah, sehingga tidak ada keraguan sedikit pun mengenai keabsahannya sebagai ibadah yang disyariatkan.
Hadits-hadits Penting tentang Pelaksanaan Aqiqah
Beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang menjadi landasan utama perintah aqiqah bersumber dari, antara lain:
- Hadits Salman bin Amir Ad-Dhabbi:
“Bersama anak terdapat aqiqah, maka alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah kotoran darinya.” (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa aqiqah adalah bagian yang tak terpisahkan dari kelahiran seorang anak. Frasa “alirkanlah darah” merujuk pada penyembelihan hewan, sementara “singkirkanlah kotoran” merujuk pada mencukur rambut bayi.
- Hadits Aisyah Radhiyallahu Anha:
“Nabi SAW pernah memerintahkan kepada kami agar menyembelih dua ekor kambing yang sepadan untuk anak laki-laki dan seekor kambing untuk anak perempuan.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menjelaskan perbedaan jumlah hewan aqiqah antara anak laki-laki dan perempuan, yaitu dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan.
- Hadits Samurah bin Jundub:
“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Hadits ini sangat penting karena menjelaskan beberapa sunnah terkait aqiqah, yaitu waktu pelaksanaannya pada hari ketujuh, anjuran mencukur rambut bayi, dan pemberian nama yang baik.
- Hadits Ummu Kurz Al-Ka’biyah:
“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu kambing.'” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadits ini memperkuat dalil tentang jumlah hewan aqiqah yang sama dengan hadits Aisyah, menunjukkan konsistensi dalam ajaran Nabi SAW.
Dari berbagai hadits di atas, jelaslah bahwa perintah aqiqah bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW yang merupakan penjelas dan pelengkap dari Al-Qur’an. Melaksanakan aqiqah berarti menghidupkan salah satu sunnah beliau dan meraih keutamaan di sisi Allah SWT.
Hikmah dan Keutamaan Melaksanakan Aqiqah
Melaksanakan aqiqah bukan hanya sekadar mengikuti perintah, tetapi juga mengandung banyak hikmah dan keutamaan, di antaranya:
- Wujud Syukur kepada Allah SWT: Aqiqah adalah bentuk rasa syukur orang tua atas karunia dan amanah berupa anak yang telah diberikan oleh Allah SWT.
- Mendekatkan Diri kepada Allah SWT: Dengan melaksanakan aqiqah sesuai syariat, kita menunjukkan ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
- Penebusan bagi Anak: Sebagian ulama mengartikan “tergadai” dalam hadits Samurah sebagai perlindungan atau tebusan bagi anak dari berbagai kesulitan atau cobaan di masa depan.
- Penyebaran Kebahagiaan dan Silaturahmi: Daging aqiqah yang dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat dapat mempererat tali silaturahmi dan menyebarkan kebahagiaan atas kelahiran anak.
- Menghidupkan Sunnah Nabi Muhammad SAW: Dengan ber-aqiqah, kita turut melestarikan dan menghidupkan salah satu sunnah Rasulullah SAW yang penuh berkah.
- Menciptakan Lingkungan yang Saleh: Memulai kehidupan anak dengan ibadah aqiqah diharapkan dapat menumbuhkan generasi yang taat dan berakhlak mulia.
Aqiqah Nurul Hayat hadir untuk membantu Anda menunaikan ibadah aqiqah dengan mudah, praktis, dan sesuai syariat. Dengan pengalaman bertahun-tahun dan didukung oleh 52 cabang nasional, kami berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik agar ibadah aqiqah Anda berjalan lancar dan berkah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum terkait aqiqah:
1. Kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan aqiqah?
Waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14, atau hari ke-21. Jika masih belum bisa juga, maka boleh dilaksanakan kapan saja setelah itu, bahkan setelah anak dewasa, selama orang tua atau anak itu sendiri mampu.
2. Berapa jumlah hewan yang disembelih untuk aqiqah anak laki-laki dan perempuan?
Untuk anak laki-laki disunnahkan menyembelih dua ekor kambing yang sepadan (umur dan kualitasnya), sedangkan untuk anak perempuan disunnahkan menyembelih satu ekor kambing.
3. Apakah hukum aqiqah itu wajib atau sunnah?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun tidak wajib, sangat dianjurkan bagi yang mampu untuk melaksanakannya karena besarnya keutamaan dan pahala yang terkandung di dalamnya.
4. Bolehkah melaksanakan aqiqah setelah anak dewasa?
Ya, boleh. Jika orang tua belum mampu melaksanakan aqiqah untuk anaknya hingga anak tersebut dewasa, maka anak tersebut boleh mengaqiqahi dirinya sendiri. Dalilnya adalah hadits yang menyatakan bahwa anak tergadai dengan aqiqahnya, yang menunjukkan pentingnya ibadah ini.
5. Apa saja amalan lain yang disunnahkan saat aqiqah?
Selain menyembelih hewan, sunnah lain yang dianjurkan saat aqiqah adalah mencukur rambut bayi (dan bersedekah seberat timbangan rambut tersebut dengan perak), serta memberi nama yang baik untuk anak. Semua amalan ini bertujuan untuk menyempurnakan ibadah aqiqah dan memohon keberkahan bagi sang anak.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai berbagai hal terkait ibadah aqiqah dan tips-tips bermanfaat, Anda bisa mengunjungi blog Aqiqah Nurul Hayat.
Butuh layanan aqiqah yang terpercaya dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.