Hadits Tentang Aqiqah Beserta Artinya: Panduan Lengkap Sesuai Sunnah

Memahami hadits tentang aqiqah beserta artinya adalah langkah penting bagi setiap orang tua Muslim yang ingin menunaikan ibadah ini dengan benar sesuai tuntunan syariat. Aqiqah merupakan bentuk syukur atas kelahiran anak sekaligus wujud ketaatan kepada Allah SWT. Dalam Islam, pelaksanaan aqiqah memiliki dasar yang kuat dari sunnah Rasulullah SAW, yang penjelasannya tersebar dalam berbagai hadits.

hadits tentang aqiqah beserta artinya aqiqah nurul hayat

Pendahuluan: Mengapa Memahami Hadits Tentang Aqiqah Itu Penting?

Aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) yang dilakukan sebagai bentuk penebusan bagi anak yang baru lahir. Selain sebagai ekspresi rasa syukur, aqiqah juga mengandung nilai-nilai sosial, seperti berbagi kebahagiaan dengan sesama melalui hidangan daging aqiqah. Untuk memastikan ibadah ini sah dan berpahala, kita wajib merujuk pada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dengan memahami hadits tentang aqiqah beserta artinya, kita dapat melaksanakan aqiqah dengan keyakinan dan kemantapan hati, mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Aqiqah Nurul Hayat, sebagai pelopor layanan aqiqah syar’i di Indonesia, berkomitmen untuk membantu setiap keluarga Muslim menunaikan ibadah ini sesuai tuntunan agama. Kami percaya bahwa edukasi tentang dasar-dasar syariat, termasuk hadits-hadits terkait aqiqah, adalah kunci untuk ibadah yang lebih bermakna.

Kumpulan Hadits Tentang Aqiqah Beserta Artinya dan Penjelasannya

Berikut adalah beberapa hadits sahih yang menjadi landasan hukum dan tata cara pelaksanaan aqiqah dalam Islam:

1. Hadits Tentang Kewajiban Aqiqah dan Jumlah Hewan

Dari Salman bin Amir Adh-Dhabbi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah darah untuknya dan singkirkanlah kotoran darinya." (HR. Bukhari)

Artinya: Hadits ini menunjukkan bahwa aqiqah adalah sebuah tuntutan yang melekat pada kelahiran seorang anak laki-laki. Frasa "tumpahkanlah darah" merujuk pada penyembelihan hewan, sedangkan "singkirkanlah kotoran darinya" bisa diartikan sebagai mencukur rambut bayi atau membersihkan diri dari dosa dan kesalahan.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk beraqiqah atas anak laki-laki dengan dua kambing yang sepadan, dan atas anak perempuan dengan satu kambing." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Artinya: Hadits ini menjelaskan secara spesifik jumlah hewan yang disembelih untuk aqiqah. Untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing. Kambing yang "sepadan" berarti kambing yang memenuhi syarat syar’i untuk kurban, yaitu sehat, tidak cacat, dan cukup umur.

2. Hadits Tentang Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Dari Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama." (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Artinya: Hadits ini menjelaskan bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Istilah "tergadai" di sini memiliki beberapa penafsiran, salah satunya adalah bahwa anak tersebut belum sempurna dalam keberkahannya atau belum bisa memberikan syafaat kepada orang tuanya hingga aqiqahnya ditunaikan. Selain itu, hadits ini juga menyebutkan sunnah lain yang menyertai aqiqah, yaitu mencukur rambut bayi dan memberinya nama yang baik.

3. Hadits Tentang Mencukur Rambut dan Memberi Nama

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

"Rasulullah SAW beraqiqah untuk Hasan dan Husain dengan seekor kambing masing-masing, dan beliau memerintahkan Fatimah untuk mencukur rambut mereka dan bersedekah perak seberat rambut tersebut." (HR. Tirmidzi)

Artinya: Hadits ini menegaskan kembali sunnah mencukur rambut bayi setelah aqiqah dan anjuran untuk bersedekah perak seberat timbangan rambut yang dicukur. Ini adalah bentuk lain dari rasa syukur dan kepedulian sosial.

Hikmah dan Tata Cara Aqiqah Sesuai Sunnah

Pelaksanaan aqiqah bukan hanya sekadar ritual, melainkan mengandung hikmah yang mendalam:

  • Syukur kepada Allah SWT: Atas karunia anak yang diberikan.
  • Menghidupkan Sunnah: Mengikuti teladan Rasulullah SAW.
  • Tolak Bala: Sebagai bentuk perlindungan dan penebusan bagi anak.
  • Sosial dan Silaturahmi: Mempererat hubungan dengan tetangga dan kerabat melalui pembagian daging aqiqah.

Setelah memahami hadits tentang aqiqah beserta artinya, penting untuk mengetahui tata cara pelaksanaannya:

  1. Niat: Menunaikan aqiqah ikhlas karena Allah SWT.
  2. Penyembelihan Hewan: Sesuai syariat, dua kambing untuk anak laki-laki dan satu kambing untuk anak perempuan.
  3. Pembagian Daging: Daging aqiqah sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Disunnahkan untuk dimakan sebagian oleh keluarga, dibagikan kepada fakir miskin, dan tetangga.
  4. Mencukur Rambut Bayi: Pada hari ketujuh, diikuti dengan bersedekah perak seberat timbangan rambut.
  5. Memberi Nama: Berikan nama yang baik dan bermakna.

Untuk memastikan aqiqah Anda berjalan lancar dan sesuai syariat, blog Aqiqah Nurul Hayat menyediakan berbagai informasi dan panduan lengkap. Dengan 52 cabang di seluruh Indonesia, Aqiqah Nurul Hayat siap membantu Anda menunaikan ibadah aqiqah dengan praktis, higienis, dan sesuai syariat.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa hukum aqiqah dalam Islam?

Hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun bukan wajib, sangat ditekankan untuk melaksanakannya bagi yang mampu, mengingat banyaknya keutamaan dan hikmah di dalamnya.

2. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah?

Waktu terbaik adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14 atau ke-21. Beberapa ulama juga membolehkan pelaksanaan aqiqah kapan saja setelah itu, bahkan hingga anak dewasa.

3. Berapa jumlah hewan yang disembelih untuk aqiqah?

Berdasarkan hadits, untuk anak laki-laki disunnahkan dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing. Kambing harus memenuhi syarat seperti usia dan tidak cacat.

4. Apakah aqiqah bisa dilakukan setelah dewasa?

Ya, menurut sebagian besar ulama, aqiqah yang belum dilaksanakan oleh orang tua saat anak masih kecil boleh dilakukan sendiri oleh anak tersebut setelah ia dewasa, jika ia mampu. Ini didasarkan pada riwayat bahwa Rasulullah SAW beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah menjadi Nabi.

Butuh layanan aqiqah yang terpercaya dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.

Aqiqah No. #1 di Indonesia dengan 52 cabang. Dipercaya keluarga Indonesia dan para artis.

Hidangan lezat dari kambing pilihan, dimasak oleh juru masak berpengalaman, siap menjadikan momen tasyakuran atau berbagi Anda lebih bermakna.

KANTOR PUSAT

Perum IKIP Gunung Anyar B-48 Surabaya.

Buka Setiap Hari : 08.00 - 21.00 WIB

HOTLINE : 0822 2955 1842

QUICK LINK

Kantor Cabang

Paket Aqiqah

Testimoni Artis

FAQ Seputar Aqiqah

Scroll to Top