Pertanyaan umum yang sering muncul di benak umat Muslim saat merencanakan ibadah aqiqah adalah: kalau aqiqah boleh memakan dagingnya atau tidak? Kekhawatiran akan melanggar syariat atau sekadar ingin memahami lebih dalam tata cara yang benar adalah hal yang wajar. Aqiqah merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Namun, bagaimana dengan aturan konsumsi dagingnya? Apakah ada batasan tertentu bagi keluarga yang beraqiqah?

Memahami Konsep Dasar Aqiqah dan Pembagian Dagingnya
Sebelum membahas lebih jauh mengenai konsumsi daging aqiqah, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu aqiqah dan bagaimana seharusnya daging aqiqah dibagikan. Aqiqah adalah penyembelihan hewan (kambing atau domba) sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kelahiran anak, yang dilaksanakan pada hari ketujuh, keempat belas, atau kedua puluh satu setelah kelahiran.
Pembagian daging aqiqah memiliki anjuran tersendiri dalam Islam. Secara umum, daging aqiqah dibagi menjadi tiga bagian:
- Sepertiga untuk keluarga yang beraqiqah: Bagian ini bisa dimakan oleh orang tua, sanak saudara, dan kerabat dekat.
- Sepertiga untuk fakir miskin: Sebagai bentuk sedekah dan kepedulian sosial, bagian ini dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
- Sepertiga untuk tetangga dan kerabat: Bagian ini dibagikan kepada tetangga dan sahabat sebagai bentuk silaturahmi dan berbagi kebahagiaan.
Dari pembagian ini, sudah ada indikasi yang jelas bahwa keluarga yang beraqiqah memiliki hak untuk mengonsumsi sebagian daging tersebut. Ini berbeda dengan daging kurban yang umumnya dianjurkan untuk lebih banyak disedekahkan.
Kalau Aqiqah Boleh Memakan Dagingnya? Dalil dan Pandangan Ulama
Pertanyaan inti kita, kalau aqiqah boleh memakan dagingnya, dijawab dengan tegas oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil syar’i. Mayoritas ulama, termasuk dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa keluarga yang melaksanakan aqiqah, termasuk orang tua bayi, diperbolehkan bahkan dianjurkan untuk memakan sebagian daging aqiqah tersebut. Ini adalah salah satu perbedaan mendasar dengan ibadah kurban, di mana sebagian ulama memakruhkan orang yang berkurban untuk memakan daging kurbannya sendiri, meskipun sebagian lainnya membolehkan.
Dalil yang mendasari kebolehan ini adalah hadis dari Aisyah RA, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Daging aqiqah itu dimakan, disedekahkan, dan disimpan.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini secara eksplisit menunjukkan bahwa ada keleluasaan bagi shohibul hajat (keluarga yang beraqiqah) untuk mengonsumsi daging aqiqah. Bahkan, memakan daging aqiqah dianggap sebagai bentuk tasyakkur (bersyukur) dan menikmati rezeki dari Allah SWT yang telah diberikan melalui kelahiran anak. Tujuannya adalah untuk berbagi kebahagiaan dan keberkahan dengan keluarga, tetangga, serta kaum fakir miskin.
Oleh karena itu, tidak perlu ada keraguan lagi. Anda dan keluarga boleh menikmati hidangan dari daging aqiqah anak Anda. Ini adalah bagian dari sunnah yang dianjurkan.
Etika dan Anjuran dalam Mengonsumsi Daging Aqiqah
Meskipun kalau aqiqah boleh memakan dagingnya, ada beberapa etika dan anjuran yang sebaiknya diperhatikan agar ibadah aqiqah kita semakin sempurna dan berkah:
- Memasak Daging Terlebih Dahulu: Dianjurkan untuk memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum dibagikan, baik kepada fakir miskin, kerabat, maupun dikonsumsi sendiri. Hal ini bertujuan untuk memudahkan penerima dan menunjukkan rasa hormat. Membagikan dalam bentuk masakan juga lebih praktis dan bisa langsung dinikmati.
- Tidak Memecahkan Tulang: Beberapa ulama menganjurkan agar tulang-tulang hewan aqiqah tidak dipecahkan. Hal ini sebagai simbol keselamatan dan kesejahteraan bagi bayi yang diaqiqahi. Namun, ini adalah anjuran, bukan syarat mutlak. Jika kesulitan, memecahkan tulang tidak membatalkan aqiqah.
- Niat Bersyukur: Saat mengonsumsi daging aqiqah, niatkan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas karunia anak yang telah diberikan, serta sebagai bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
- Tidak Menjual Daging Aqiqah: Daging aqiqah tidak boleh dijual, baik yang mentah maupun yang sudah dimasak. Tujuan aqiqah adalah ibadah dan sedekah, bukan transaksi jual beli.
Dengan memahami etika ini, ibadah aqiqah Anda akan lebih bermakna dan sesuai dengan tuntunan syariat. Aqiqah Nurul Hayat, sebagai pelopor layanan aqiqah profesional, selalu berkomitmen untuk memastikan setiap proses aqiqah dilakukan sesuai syariat, mulai dari pemilihan hewan hingga proses penyembelihan dan pengolahan daging menjadi hidangan lezat yang siap disajikan dan dibagikan.
Pertanyaan Umum Seputar Konsumsi Daging Aqiqah (FAQ)
- 1. Bolehkah orang tua bayi memakan daging aqiqah anaknya sendiri?
-
Ya, sangat diperbolehkan bahkan dianjurkan. Orang tua bayi termasuk dalam kategori “shohibul hajat” yang berhak mengonsumsi sebagian daging aqiqah sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan.
- 2. Apakah ada bagian tertentu dari daging aqiqah yang tidak boleh dimakan?
-
Secara umum, semua bagian daging aqiqah yang halal dan layak konsumsi boleh dimakan. Tidak ada larangan khusus untuk bagian tertentu. Namun, organ internal seperti hati atau ginjal juga boleh dikonsumsi.
- 3. Apa saja sunnah dalam pembagian daging aqiqah?
-
Sunnahnya adalah membagikan daging aqiqah dalam keadaan sudah dimasak. Pembagiannya bisa sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk fakir miskin, dan sepertiga untuk tetangga/kerabat. Ini juga bisa dibagikan kepada siapa saja yang Anda ingin ajak berbagi kebahagiaan.
- 4. Mengapa daging aqiqah sebaiknya dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan?
-
Dianjurkan memasak daging aqiqah terlebih dahulu karena beberapa alasan: memudahkan penerima, menunjukkan rasa hormat, lebih praktis dan higienis, serta memungkinkan penerima langsung menikmati hidangan tanpa repot mengolahnya. Ini juga sejalan dengan praktik yang lebih baik untuk acara syukuran.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai ibadah aqiqah dan berbagai panduan syar’i lainnya, kunjungi blog Aqiqah Nurul Hayat.
Butuh layanan aqiqah yang terpercaya dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.