Membahas sejarah akikah berarti menelusuri jejak sebuah tradisi keagamaan yang kaya akan makna dan hikmah, berakar kuat dalam ajaran Islam. Akikah, sebagai wujud syukur atas kelahiran seorang anak, bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah syariat yang membawa keberkahan dan kebaikan bagi keluarga serta masyarakat. Mari kita selami perjalanan akikah dari masa ke masa, memahami bagaimana ia menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Muslim.

Asal Mula dan Landasan Syariat Akikah dalam Islam
Secara bahasa, kata “akikah” (العقيقة) berarti rambut yang tumbuh di kepala bayi sejak lahir. Namun, dalam konteks syariat Islam, akikah merujuk pada penyembelihan hewan ternak tertentu sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas kelahiran anak, yang dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahirannya.
Meskipun pensyariatan akikah secara formal ditetapkan pada masa Rasulullah SAW, akar tradisi penyembelihan hewan sebagai bentuk persembahan syukur sudah ada jauh sebelum Islam. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa praktik semacam ini telah dikenal di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, namun dengan tujuan dan cara yang berbeda, seringkali bercampur dengan kepercayaan animisme atau ritual yang tidak sesuai syariat.
Islam datang menyempurnakan dan meluruskan praktik-praktik tersebut. Rasulullah SAW tidak menghapus tradisi baik yang ada, melainkan membersihkannya dari unsur-unsur kemusyrikan dan memberikan landasan syariat yang kokoh. Dari sinilah sejarah akikah yang kita kenal sekarang mulai terbentuk, berlandaskan pada sunnah Rasulullah SAW.
Pensyariatan Akikah di Masa Rasulullah SAW dan Para Sahabat
Pilar utama pensyariatan akikah ditegakkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Beliau menganjurkan umatnya untuk melaksanakan akikah sebagai bagian dari syariat Islam yang penuh berkah. Banyak hadis sahih yang menjelaskan tentang perintah dan tata cara akikah. Salah satu hadis yang paling terkenal adalah sabda beliau:
“Setiap anak tergadai dengan akikahnya, disembelihkan (hewan) untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah)
Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan dengan mengakikahi cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain, masing-masing dengan seekor kambing. Dari teladan inilah para sahabat dan generasi setelahnya mengikuti sunnah tersebut, menjadikan akikah sebagai salah satu ibadah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah).
Pensyariatan ini menegaskan bahwa akikah bukan hanya sekadar adat, melainkan ibadah yang memiliki nilai spiritual tinggi. Akikah menjadi sarana untuk:
- Menyambut kelahiran anak dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT.
- Memohon perlindungan dan keberkahan bagi sang anak.
- Menyebarkan kebahagiaan kepada keluarga, tetangga, dan fakir miskin melalui hidangan daging akikah.
Praktik akikah terus berlanjut dan berkembang di berbagai belahan dunia Islam, diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bukti nyata akan keindahan dan kelengkapan syariat Islam.
Hikmah dan Keutamaan Melaksanakan Akikah
Di balik setiap syariat yang ditetapkan Allah SWT, selalu terkandung hikmah dan keutamaan yang besar bagi umat manusia. Begitu pula dengan akikah. Melaksanakan akikah bukan hanya sekadar memenuhi perintah, tetapi juga mendatangkan berbagai manfaat, baik bagi anak yang diakikahi maupun bagi orang tua dan masyarakat:
- Wujud Syukur kepada Allah SWT: Akikah adalah bentuk konkret rasa terima kasih orang tua atas karunia terindah berupa anak yang dititipkan Allah SWT.
- Membebaskan “Gadaian” Anak: Hadis Nabi SAW menyebutkan bahwa setiap anak tergadai dengan akikahnya. Para ulama menafsirkan “tergadai” ini dengan beberapa makna, di antaranya bahwa anak belum sempurna keberkahannya atau belum sepenuhnya dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya di akhirat jika belum diakikahi.
- Mendapatkan Keberkahan dan Perlindungan: Dengan melaksanakan akikah, orang tua berharap anak akan tumbuh dalam keberkahan, kesehatan, dan terhindar dari berbagai mara bahaya.
- Menyebarkan Kebahagiaan dan Solidaritas Sosial: Daging akikah yang dibagikan kepada kerabat, tetangga, dan fakir miskin menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi, berbagi kebahagiaan, serta menumbuhkan rasa kepedulian sosial.
- Pemberian Nama dan Mencukur Rambut: Bersamaan dengan akikah, disunnahkan pula untuk mencukur rambut bayi dan memberikan nama yang baik, sebagai bagian dari proses membersihkan dan memberikan identitas Islami sejak dini.
Memahami sejarah akikah dan hikmahnya akan semakin memotivasi kita untuk menjalankan sunnah ini dengan penuh keikhlasan. Di era modern ini, kemudahan dalam melaksanakan akikah juga semakin beragam. blog Aqiqah Nurul Hayat menyediakan berbagai informasi dan panduan lengkap seputar akikah yang dapat membantu Anda.
FAQ Seputar Akikah
Berikut adalah beberapa pertanyaan umum yang sering diajukan mengenai akikah:
1. Apa pengertian akikah secara syariat?
Akikah secara syariat adalah penyembelihan hewan ternak (kambing atau domba) sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas kelahiran anak, yang disunnahkan untuk dilaksanakan pada hari ketujuh kelahirannya, disertai dengan mencukur rambut bayi dan pemberian nama yang baik.
2. Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan akikah?
Waktu yang paling utama (sunnah muakkadah) untuk melaksanakan akikah adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran anak. Jika tidak memungkinkan, bisa pada hari ke-14 atau ke-21. Jika masih belum bisa, maka akikah dapat dilaksanakan kapan saja hingga anak baligh. Jika anak sudah baligh dan belum diakikahi, sebagian ulama membolehkan orang tua tetap mengakikahi anaknya, atau anak tersebut mengakikahi dirinya sendiri.
3. Apa saja syarat hewan yang digunakan untuk akikah?
Hewan yang digunakan untuk akikah adalah kambing atau domba, dengan syarat-syarat seperti hewan kurban, yaitu sehat, tidak cacat, dan telah mencapai usia minimal yang ditentukan syariat (domba minimal berusia 6 bulan atau sudah tanggal gigi, kambing minimal berusia 1 tahun). Jumlah hewan adalah 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan.
4. Apa perbedaan utama antara akikah dan kurban?
Perbedaan utama antara akikah dan kurban terletak pada waktu dan sebab pelaksanaannya. Akikah dilaksanakan karena kelahiran anak dan waktunya spesifik (hari ke-7, 14, 21), sedangkan kurban dilaksanakan pada Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik (10-13 Dzulhijjah) sebagai bentuk ibadah pada momen tersebut. Hukumnya sama-sama sunnah muakkadah, namun tujuan dan konteksnya berbeda.
5. Bolehkah akikah dilakukan oleh orang dewasa untuk dirinya sendiri?
Ya, menurut sebagian besar ulama, jika seseorang belum diakikahi oleh orang tuanya saat kecil, dan ia sudah dewasa serta mampu, maka disunnahkan baginya untuk mengakikahi dirinya sendiri. Ini adalah bentuk penyempurnaan sunnah yang terlewatkan.
Butuh layanan aqiqah yang terpercaya dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.