Pertanyaan seputar selapan berapa hari adalah hal yang umum bagi banyak keluarga di Indonesia, terutama yang memiliki akar budaya Jawa. Tradisi selapan merupakan salah satu momen penting dalam menyambut kelahiran buah hati, yang seringkali disandingkan dengan pelaksanaan ibadah aqiqah. Namun, apakah Anda tahu persis kapan selapan itu dilakukan dan apa maknanya?

Apa Itu Tradisi Selapan dalam Budaya Jawa?
Tradisi selapan adalah upacara adat Jawa yang diselenggarakan untuk memperingati “selapanan” atau 35 hari kelahiran seorang bayi. Istilah “selapan” sendiri berasal dari kata sela (satu) dan pan (pasaran), merujuk pada satu putaran penuh siklus penanggalan Jawa yang terdiri dari 5 hari pasaran (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, Legi). Jadi, 35 hari adalah satu siklus penuh dari 7 hari dalam seminggu dikalikan 5 hari pasaran.
Dalam tradisi ini, bayi yang baru lahir dianggap telah melewati fase krusial awal kehidupannya. Upacara selapanan biasanya diisi dengan berbagai ritual simbolis seperti pemotongan rambut (cukur gundul), pemberian nama (jika belum), hingga prosesi tedak siten (turun tanah) jika bayi sudah mulai belajar berjalan. Tujuannya adalah sebagai wujud syukur atas karunia anak, memohon keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi sang buah hati.
Kapan Sebaiknya Selapan Dilaksanakan? Memahami Perhitungan Hari
Seperti yang telah dijelaskan, selapan secara tradisional dilaksanakan pada hari ke-35 setelah kelahiran bayi. Perhitungan ini berbeda dengan perhitungan kalender Masehi biasa, karena melibatkan kalender Jawa dengan siklus pasaran. Untuk menentukan selapan berapa hari yang tepat, biasanya orang tua akan menghitung dari tanggal lahir bayi sesuai dengan pasaran Jawa.
Misalnya, jika bayi lahir pada hari Senin Pahing, maka selapanannya akan jatuh pada hari Senin Pahing lagi di minggu kelima setelah kelahirannya. Meskipun demikian, ada juga beberapa keluarga yang melaksanakan selapan pada hari ke-40, meskipun ini lebih sering dikaitkan dengan tradisi lain atau hanya sebagai penanda waktu yang lebih umum. Intinya, perhitungan 35 hari berdasarkan pasaran Jawa adalah patokan utama tradisi selapan.
Penting untuk diingat bahwa selapan adalah tradisi budaya, bukan bagian dari syariat Islam. Namun, banyak keluarga Muslim yang memilih untuk menggabungkan atau menyelaraskan tradisi ini dengan ibadah aqiqah.
Selapan dan Aqiqah: Dua Tradisi yang Sering Bersamaan
Meskipun memiliki dasar yang berbeda, tradisi selapan dan ibadah aqiqah seringkali dilaksanakan bersamaan oleh masyarakat Muslim di Indonesia. Aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai tanda syukur atas kelahiran anak, yang hukumnya adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) dalam Islam. Waktu yang paling utama untuk aqiqah adalah pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21 setelah kelahiran bayi.
Namun, jika tidak memungkinkan pada waktu-waktu tersebut, aqiqah dapat dilaksanakan kapan saja hingga anak baligh. Fleksibilitas waktu aqiqah inilah yang membuat banyak keluarga memilih untuk melaksanakannya berbarengan dengan acara selapan pada hari ke-35. Dengan demikian, mereka dapat merayakan dua momen penting sekaligus, menggabungkan tradisi budaya dengan anjuran agama.
Aqiqah Nurul Hayat memahami betul perpaduan nilai-nilai agama dan budaya yang ada di masyarakat. Kami menyediakan layanan aqiqah yang syar’i, praktis, dan higienis, sehingga Anda bisa fokus pada kebahagiaan menyambut buah hati, baik saat selapan maupun aqiqah. Kami siap membantu Anda merencanakan dan melaksanakan aqiqah sesuai syariat dan kebutuhan keluarga Anda.
Keutamaan Aqiqah dalam Islam dan Fleksibilitas Waktunya
Aqiqah memiliki keutamaan yang besar dalam Islam. Selain sebagai wujud syukur kepada Allah SWT atas karunia anak, aqiqah juga merupakan tebusan bagi anak dari berbagai musibah dan penyakit, serta menjadi sebab keberkahan dalam kehidupannya. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).
Meskipun anjuran waktu terbaik adalah pada hari ke-7, ke-14, atau ke-21, para ulama sepakat bahwa aqiqah tetap sah dilaksanakan kapan saja sebelum anak mencapai usia baligh. Ini memberikan kelonggaran bagi orang tua yang mungkin memiliki kendala finansial atau waktu di awal kelahiran. Jadi, jika Anda memilih untuk melaksanakan aqiqah bersamaan dengan selapan pada hari ke-35, itu tetap sah dan berpahala.
Dengan layanan Aqiqah Nurul Hayat, Anda tidak perlu khawatir tentang persiapan hewan, proses penyembelihan yang syar’i, hingga pengolahan masakan yang lezat dan higienis. Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik agar ibadah aqiqah Anda berjalan lancar dan penuh berkah. Kunjungi blog Aqiqah Nurul Hayat untuk informasi lebih lanjut mengenai aqiqah dan tips parenting Islami.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Selapan dan Aqiqah
- Apakah selapan wajib dalam Islam?
- Tidak, selapan adalah tradisi budaya Jawa dan bukan merupakan kewajiban dalam syariat Islam. Namun, banyak keluarga Muslim yang tetap melaksanakannya sebagai bentuk syukur dan pelestarian budaya.
- Berapa jumlah hewan untuk aqiqah anak laki-laki dan perempuan?
- Menurut syariat Islam, untuk anak laki-laki disunnahkan menyembelih dua ekor kambing/domba, sedangkan untuk anak perempuan satu ekor kambing/domba.
- Bisakah aqiqah digabung dengan acara selapan?
- Ya, sangat bisa. Karena aqiqah memiliki fleksibilitas waktu hingga anak baligh, banyak keluarga Muslim memilih untuk menggabungkan pelaksanaannya dengan acara selapan pada hari ke-35 untuk efisiensi dan kebersamaan.
- Mengapa ada yang menyebut selapan 40 hari?
- Istilah “40 hari” seringkali merujuk pada periode nifas ibu atau sebagai penanda umum setelah kelahiran, yang juga merupakan tradisi di beberapa daerah. Namun, “selapan” yang merujuk pada siklus pasaran Jawa secara spesifik adalah 35 hari.
- Apa perbedaan selapan dan turun tanah (tedak siten)?
- Selapan adalah peringatan 35 hari kelahiran bayi. Sedangkan turun tanah (tedak siten) adalah upacara adat Jawa yang dilakukan ketika bayi pertama kali menginjakkan kaki ke tanah, biasanya saat usianya sekitar 7-8 bulan atau ketika ia mulai belajar berjalan. Keduanya adalah tradisi yang berbeda namun sama-sama penting dalam budaya Jawa.
Butuh layanan aqiqah yang terpercaya dan syar’i? Kunjungi Aqiqah Nurul Hayat — layanan aqiqah #1 di Indonesia dengan 52 cabang siap melayani Anda.